Selasa, 11 Desember 2018

Permintaan Terakhir





          "Sekarang kau tidak punya segala sesuatu untuk kau jelaskan lagi. Terimalah hukumanmu!", Jendral Garbus cekikikan saja melihat diriku, ya diriku. Aku sedang berdiri di ujung balok kayu di atas kapal ini. Sedikit saja aku mundur, ombak ganas di bawah akan menelanku.

"Jendral, kiranya engkau mengerti permasalahannya. Ednugo, putramu, telah mengikhlaskan apa yang telah diambil Ravieta untuk orang-orang miskin itu. Jangan juga engkau timpakan hukuman kepada mereka. Biarlah cukup aku yang jadi penanggung." (Yup, Serpus, dengan lagak kepahlawanannya berusaha mensubstitusi hukuman untuk Ravieta karena telah mencuri harta milik Ednugo, putra Jendral Garbus).

"Dan juga, engkau sebagai Jendral, sekiranya memiliki belas kasihan kepada mereka. Mereka juga telah berbakti kepadamu dengan setulus hati. Tidak ada yang lebih tulus dari mereka. Mereka orang-orang pilihan yang tidak pernah mengeluh terhadapmu. Sekiranya engkau membiarkan mereka hidup."

          Mendengar hal itu, Jendral tampak berpikir. Tampak dia menaruh hati kepada orang-orang itu. Dia pun tampak berunding dengan penasehatnya.
"Serpus, aku telah mendengar apa yang penasehatku katakan mengenai apa yang telah kau sampaikan tadi. Tapi aku tetap akan memberikan hukuman mati kepadamu. Namun, kau masih punya kesempatan untuk hidup, jika kau mampu menjawab 3 pertanyaanku. Jika jawabanmu benar, kau bisa maju satu langkah, jika pertanyaanmu salah, kau mundur dua langkah."

Serpus mendengar apa yang diucapkan oleh Sang Jendral, "aku menerimanya, Jendral"

Jendral memulai...

"Pertanyaan pertama, siapakah yang memenggal kepala Dewi Medusa?"

"Yang memenggal kepala Dewi Medusa adalah Perseus Putra Zeus"

Aku pun maju satu langkah.

"Pertanyaan kedua, siapakah ayah dari Zeus, Hades, dan Poseidon?"

"Ayah dari Zeus, Hades, dan Poseidon adalah Kronos"

Aku pun maju satu langkah lagi.
"Pertanyaan ketiga, ..."

"Je Jendral", tampak penasehat tadi berbisik dan memegang lengan Jendral Garbus.

"Hmm", Jendral merespon.

"Ba, baloknya...", penasehat tampak menunjuk ke bawah.

Jendral pun melihat ke bawah. Tampak sepotong balok kayu menari-nari di atas ombak laut yang ganas, seperti balerina. Cantik sekali.

Jendral pun kembali menatapku. Aku pun menatapnya sambil bertanya-bertanya, "apa yang mereka bicarakan tadi?"

Sontak saja, Jendral dan penasehat itu lari dan pergi menjauh dari tempatku tadi.

"Hei, apa pertanyaan berikutnya?, Aneh sekali, mengapa mereka lari?", aku pun bertanya-bertanya.

"Baiklah, kalau tidak ada yang ditanyakan, artinya aku telah dibebaskan", sahut Serpus seraya pergi dan melayang mencari kapal yang lain.

Senin, 10 Desember 2018

Kebersamaan Semu





          Nino tampak tergesa-gesa sekali. Dengan cepat, ia mengambil beberapa batu di bawah kakinya. "Hah, hah, mereka pasti sedang tidur. Aku harus bergerak cepat!", "*krek, krek, krek*". Retakannya makin besar, semakin besar dan makin besar. "teman-teman, aku akan pulang!", ucap Nino penuh semangat. Finalnya, retakan itu pun terpecah berkeping-keping. "Yeah! ayo Nino kamu pasti bisa!", dia berjalan cukup cepat namun dengan hati-hati. Dia takut dengan serpihan kaca yang terkena kaki dan perutnya. Namun, perjalanan baru 10 menit, tapi dia nampaknya sudah sangat letih, "hah hah hah, aku, udah enggak kuaaattt...". Pikirannya hendak mengajaknya pada tempatnya semula, namun nampaknya sudah sangat terlambat, lehernya terasa tercekik, sesaat kemudian semuanya menjadi gelap...



                             *********************



          "Astaga!, apa yang terjadi?!", Kevin begitu kaget dengan apa yang telah terjadi. "Ibuuu!!!, ada apa ini!!!", teriak Kevin sambil merengek!, sesaat kemudian ibunya pun datang, "Astaga! Ada apa ini! Apa yang terjadi!", ibunya pun terkejut. "Aku tidak tahu bu!, apakah ada pencurian semalam?!", sedetik kemudian ibunya pun terperanjat, "Astaga!!, kita harus periksa semua barang-barang!!", lekas saja ibunya berlari ke arah kamarnya. Kevin pun hanya bisa meratapi keadaan, "hiks, ini kan hadiah kenangan dari mendiang nenekku", Kevin menahan isak tangisnya. Dibawanyalah benda itu, lalu dia memeriksa keadaannya. "Hiks hiks hiks", Kevin tidak kuasa menahan kesedihannya...



                         ***********************



          Setelah beberapa lama, Kevin pun berjalan dan meletakkan benda itu di atas tanah. Tampak tak jauh dari tempatnya berada, ada sebuah kolam. Ketika telah disadari apa yang telah terjadi, dari permukaan kolam tampak terdengar, "ckckck, hufffttt, sudah kubilang jangan bertindak gegabah! Dia itu memang diistimewakan oleh Kevin, makanya tempatnya berbeda dari kita. Lagipula apa salahnya hidup sendiri, toh tempatnya juga jauh lebih baik disana. Kalau aku jadi dia, aku akan tinggal selamanya dalam akuarium yang cantik itu", ujar teman-teman mendiang Nino yang turut sedih sekaligus terheran-heran.

Roh-Roh Jahat di Udara

"Tut tuuuuutttt..." "Allen, bagaimana? Kau sudah siap?" "Aku masih mandi.." "Kau harap menungg...