"HAH! AKU
DIMANA?!", teriakku spontan. Akupun tidak mengetahui mengapa aku
bisa-bisanya tertidur di tempat ini. "oh! hahaha! aku lupa! tadi kan aku
bersama Albert dan Hugo pergi ke tempat ini, hahaha!", lagi-lagi aku
menertawakan kebodohanku. Entah mengapa, penyakit pelupa ini begitu melekat
kepadaku. Minggu lalu saja, aku lupa mengembalikan buku cerita horor yang
kupinjam dari temanku si Petra, padahal kami sempat berbicara cukup lama ketika
kita bertemu di acara peluncuran satelit, bahkan aku pernah tanpa sadar
membawa kunci rumah temanku, padahal aku menggenggamnya cukup lama
sebelum aku letakkan di dalam tasku. Wah aku benar-benar eror!!!!!!!!!!
Dan sekarang, akupun
sekarang lupa dimana aku berada. Seingatku, aku bersama 2 temanku (Albert dan
Hugo) tadi pergi ke tempat ini untuk mencari semacam 'bebatuan' untuk diteliti,
selanjutnya aku sudah lupa yang terjadi, "oh sial! sekarang dimana mereka?
disini gelap sekali!". Aku begitu sulit menggambarkan keadaanku sekarang.
Tempat ini begitu gelap. Aku hanya mengandalkan senter yang kubawa ketika
datang ke tempat ini. Permukaan jalannya yang berlubang-lubang membuatku
berkali-kali hampir terjatuh. Sejauh aku berjalan, hanya keadaan seperti itu
yang terlihat, seperti tak berujung, sial sekali!
"Albert! Hugo!
Dimana kalian?!", teriakku sambil terus berjalan. Apa mungkin mereka juga
ikut tersesat? Semoga saja tidak. Aku benar-benar kesal dengan pelupaanku ini.
Hanya senter, sebungkus plastik, dan sebuah tongkat pencapit yang kubawa, entah
untuk apa kubawa itu semua. Aku terus berjalan mencari jalan keluar dari tempat
ini dan berusaha tetap tenang dengan keadaan. Huh, helm dan baju ini begitu
menyulitkanku untuk berjalan, lagi-lagi aku lupa untuk apa aku memakai
barang-barang menyebalkan ini.
*********************
"Mungkin dia sakit"
"Mungkin begitu"
"Apa kau lapar, atau haus?"
David tampak diam
saja ketika ditanyakan, sejak dia kami temukan, dia hanya bersikap acuh tak
acuh kepada kami. Mungkin dia punya masalah pribadi. "Oke baiklah, mungkin
kita harus segera pulang untuk memulihkan keadaanmu", sahut Hugo kepada
David. "Kau sudah memeriksa segala ruangan, Albert?" tanya Hugo.
"Tentu saja, dan juga sepertinya sampel batuan dan hasil penelitian
tinjauan tempat ini sudah lebih dari cukup", jawab Albert. "Oke, kita
pulang sekarang, aku sudah tidak sabar untuk mempresentasikan hasil penelitian
ini kepada para ilmuwan itu", kata Hugo. "Aku juga", sahut
Albert tak mau kalah.
*********************
"Sial, jalan
ini gak ada ujungnya!", aku begitu marah dengan keadaanku sekarang. Tak
lama, amarahku berganti dengan rasa takutku yang begitu mendalam. Bagaimana
kalau aku mati disini. Aku mau menangis rasanya. "Albert! Hugo! kalau
kalian sampai ketemu, aku cincang-cincang kalian!!!", aku betul-betul
sudah diambang batas kesabaranku. Ketika aku sudah merasa tak punya harapan,
aku melihat seperti bulatan cahaya yang tak terlalu jauh dari tempatku
berpijak. Mungkin aku akan selamat. "Hei! Apa ada orang disana? Tolong aku
tersesat!", aku terus berteriak. Namun terlambat, cahaya itu sepertinya
sudah membumbung tinggi keatas langit, cepat sekali. Akupun hanya bisa pasrah
dengan keadaan sekarang. Sesaat kejadian itu, aku teringat akan sesuatu.
"DASAR TEMAN-TEMAN SIALAN! TERKUTUKLAH KALIAN!!!", tangisku meledak
saat itu juga. Aku benar-benar akan mati disini. Ah, mungkin aku akan jadi
orang pertama yang mati disini, David Rowson akan menjadi saksi sejarah di
tempat kering ini.
