Sabtu, 24 Maret 2018

Selamat Tinggal, Luna



 Gambar terkait

 
"HAH! AKU DIMANA?!", teriakku spontan. Akupun tidak mengetahui mengapa aku bisa-bisanya tertidur di tempat ini. "oh! hahaha! aku lupa! tadi kan aku bersama Albert dan Hugo pergi ke tempat ini, hahaha!", lagi-lagi aku menertawakan kebodohanku. Entah mengapa, penyakit pelupa ini begitu melekat kepadaku. Minggu lalu saja, aku lupa mengembalikan buku cerita horor yang kupinjam dari temanku si Petra, padahal kami sempat berbicara cukup lama ketika kita bertemu di acara peluncuran satelit, bahkan aku pernah tanpa sadar membawa  kunci rumah temanku, padahal aku menggenggamnya cukup lama sebelum aku letakkan di dalam tasku. Wah aku benar-benar eror!!!!!!!!!!


Dan sekarang, akupun sekarang lupa dimana aku berada. Seingatku, aku bersama 2 temanku (Albert dan Hugo) tadi pergi ke tempat ini untuk mencari semacam 'bebatuan' untuk diteliti, selanjutnya aku sudah lupa yang terjadi, "oh sial! sekarang dimana mereka? disini gelap sekali!". Aku begitu sulit menggambarkan keadaanku sekarang. Tempat ini begitu gelap. Aku hanya mengandalkan senter yang kubawa ketika datang ke tempat ini. Permukaan jalannya yang berlubang-lubang membuatku berkali-kali hampir terjatuh. Sejauh aku berjalan, hanya keadaan seperti itu yang terlihat, seperti tak berujung, sial sekali!


"Albert! Hugo! Dimana kalian?!", teriakku sambil terus berjalan. Apa mungkin mereka juga ikut tersesat? Semoga saja tidak. Aku benar-benar kesal dengan pelupaanku ini. Hanya senter, sebungkus plastik, dan sebuah tongkat pencapit yang kubawa, entah untuk apa kubawa itu semua. Aku terus berjalan mencari jalan keluar dari tempat ini dan berusaha tetap tenang dengan keadaan. Huh, helm dan baju ini begitu menyulitkanku untuk berjalan, lagi-lagi aku lupa untuk apa aku memakai barang-barang menyebalkan ini.



********************* 



"David, kau baik-baik saja?"

"Mungkin dia sakit"

"Mungkin begitu"

"Apa kau lapar, atau haus?"



David tampak diam saja ketika ditanyakan, sejak dia kami temukan, dia hanya bersikap acuh tak acuh kepada kami. Mungkin dia punya masalah pribadi. "Oke baiklah, mungkin kita harus segera pulang untuk memulihkan keadaanmu", sahut Hugo kepada David. "Kau sudah memeriksa segala ruangan, Albert?" tanya Hugo. "Tentu saja, dan juga sepertinya sampel batuan dan hasil penelitian tinjauan tempat ini sudah lebih dari cukup", jawab Albert. "Oke, kita pulang sekarang, aku sudah tidak sabar untuk mempresentasikan hasil penelitian ini kepada para ilmuwan itu", kata Hugo. "Aku juga", sahut Albert tak mau kalah.



"Oke, kita meluncur"



*********************



"Sial, jalan ini gak ada ujungnya!", aku begitu marah dengan keadaanku sekarang. Tak lama, amarahku berganti dengan rasa takutku yang begitu mendalam. Bagaimana kalau aku mati disini. Aku mau menangis rasanya. "Albert! Hugo! kalau kalian sampai ketemu, aku cincang-cincang kalian!!!", aku betul-betul sudah diambang batas kesabaranku. Ketika aku sudah merasa tak punya harapan, aku melihat seperti bulatan cahaya yang tak terlalu jauh dari tempatku berpijak. Mungkin aku akan selamat. "Hei! Apa ada orang disana? Tolong aku tersesat!", aku terus berteriak. Namun terlambat, cahaya itu sepertinya sudah membumbung tinggi keatas langit, cepat sekali. Akupun hanya bisa pasrah dengan keadaan sekarang. Sesaat kejadian itu, aku teringat akan sesuatu. "DASAR TEMAN-TEMAN SIALAN! TERKUTUKLAH KALIAN!!!", tangisku meledak saat itu juga. Aku benar-benar akan mati disini. Ah, mungkin aku akan jadi orang pertama yang mati disini, David Rowson akan menjadi saksi sejarah di tempat kering ini.



Senin, 19 Maret 2018

Gembala Miskin yang Setia





Alkisah, di suatu padang rumput yang tandus, hidup seorang pria tua bernama Imanu. Dia tinggal menetap di sebuah gubuk reot didekat padang rumput tersebut. Sejak lama dia hidup sebatang kara. Kebutuhannya hanya dia penuhi dengan menjaring ikan di sungai yang cukup jauh dari tempat tinggalnya. Hidupnya pun hanya ditemani oleh sekawanan domba yang dia piara sejak kecil. Namun, dibalik semua kemiskinan yang dia rasakan, siapa yang menyangka kalau dia dahulu adalah seorang raja yang sangat kaya, kehidupan rakyatnya pun begitu makmur dan sejahtera. Hasil laut dan tanahnya yang begitu melimpah menjadikan negeri yang dia pimpin begitu terjamin dalam masa depan. Tidak ada penderitaan, tidak ada kelaparan, semua begitu bahagia. Sang raja kala itu memiliki keluarga yang begitu dekat dengannya, ayah dan ibu yang baik dan begitu memanjakannya, serta kakeknya yang juga menyayanginya. Ketika raja berulang tahun, sang kakek memberikannya dua ekor domba jantan-betina. Sang raja begitu menyayangi domba-domba itu, dia merawatnya dengan sepenuh hati, karena dia pun tahu, kakeknya juga telah menyayanginya.


Hingga suatu ketika, bencana itu datang. Di malam yang mencekam itu, secara tiba-tiba, kerajaannya diserang oleh kerajaan musuh dari barat, Apolion. Serangan yang gencar dan begitu cepat tersebut tidak mampu diantisipasi oleh kerajaan Imanu. Untuk melindungi penerus kerajaan, serta atas desakan dari pihak istana, akhirnya Imanu melarikan diri. Sebelum dia pergi, dia membawa serta domba-dombanya. Hanya itu satu-satunya harta yang dia mampu selamatkan. Sejak saat itu, dia tidak tahu lagi nasib dari keluarganya. Menurut desas-desusnya, keluarga kerajaan tersebut telah terbunuh, dan tentu saja kerajaannya telah jatuh sepenuhnya ke tangan raja Apolion. Kini, segala kebahagiaan itu telah hilang.





*********************





"Kau masih lapar?", tanyanya kepada dombanya yang sedang mengunyah rumput kering.  Dia mencoba untuk terus tersenyum, karena tidak ada lagi yang bisa mengerti persoalannya selain domba-dombanya, karena hanya domba-domba itu hartanya yang paling berharga dan satu-satunya. "Hei, jangan berebut, kalian pasti akan mendapat bagiannya masing-masing", tegasnya sambil membagikan rumput-rumput yang masih tersisa. "Hmm, aku harus mencari rumput lagi kepada kalian, tempat ini sudah mulai kehabisan rumput". Matanya memandang, tampak dataran tandus yang membentang disekelilingnya. Sekian detik kemudian, pikirannya menerawang, matanya mulai berkaca-kaca, "harusnya aku tidak meninggalkan istana kala itu, biarlah aku pun ikut mati bersama-sama ayahku, ibuku, dan kakekku, tidak ada lagi pengharapan di dunia ini. Semua sudah berakhir". Karena hal tersebut, dia pernah mencoba untuk mengakhiri hidupnya, namun domba-dombanya tersebut membuatnya mengurungkan niat tersebut. Dia begitu mencintai ternaknya tersebut, dia tidak ingin meninggalkannya. "Lebih baik aku menjalani hidup ini sebaik-baiknya, daripada aku harus mati sia-sia", katanya. Kehidupan Imanu yang begitu sulit tidak membuatnya patah semangat, yang bisa dia lakukan hanyalah merawat domba-dombanya itu, tanpa alasan yang jelas, dia begitu mencintai ternaknya itu.



Siang hari yang terik, dimana rerumputan sudah mulai jarang. Dengan sebuah sabit dan karung, Imanu pergi meninggalkan rumah. "Tunggu aku pulang. Aku mau mencari pakan untuk kalian. Tetaplah ada di padang ini.", perintahnya sambil mengusap-usap piaraannya tersebut. Lalu berangkatlah dia kearah timur. Perjalanan yang jauh dan memakan waktu yang lama, akhirnya dia menemukan padang rumput yang hijau di balik pepohonan di hutan. Dengan segera, dia mencabuti rumput-rumput tersebut, lalu memasukkannya ke dalam karung. Matanya begitu berbinar-binar membayangkan kebahagiaan domba-dombanya ketika memakan rumput tersebut. Setelah karung terisi penuh, dia lalu pulang kembali ke rumahnya.



Hari mulai menjelang malam ketika dia tiba di rumah. Tampak domba-dombanya dia giring untuk masuk ke dalam kandang. Belum sempat semuanya masuk ke kandang, tiba-tiba dia teringat akan sesuatu, "kemana dombaku yang paling gemuk? mengapa kurang satu jumlahnya? dimana? ada dimana?". Imanu begitu panik bukan kepalang, sepersekian detik kemudian, dia berlari mengelilingi padang rumput tersebut. Berkali-kali dia mencari di tempat yang sama, tetapi hasilnya nihil. Seakan upayanya sia-sia, tanpa didasari, dia menangis, "Aku betul-betul orang yang tidak berguna. Mengapa dahulu aku mau meninggalkan tahtaku begitu saja? Dan sekarang, aku harus kehilangan satu sahabatku, aku betul-betul tidak berguna". Ditengah-tengah tangisannya tersebut, secara ajaib terdengar sayup-sayup seperti suara seekor domba. "Hah? dimana? darimana asal suara itu?", segera ia bergegas mencari sumber suara tersebut. Semakin dekat, dan semakin dekat, suara itu semakin jelas ia dengar. Dari balik semak belukar, ia akhirnya menemukan asal suara tersebut. Tampak seakan ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Di balik semak tersebut, seekor serigala tampak mencabik-cabik domba tersebut. Segera Imanu tersadar, hanya dengan tangan kosong, pria itu menghardik serigala tersebut. Sesuai dugaan, serigala itu berbalik menyerang Imanu, serigala itu mencakar-cakar dan menggigit tubuhnya hingga ia berlumuran darah. Namun ia tak patah arang, pria itu berteriak lalu mencekik serigala itu sekuat tenaga. Serigala itu akhirnya mati lemas. Imanu yang berlumuran darah dengan cepat menghampiri dombanya tersebut. "Kau pasti kuat! Aku akan menyembuhkanmu! Jangan pergi sahabatku!", sambil terisak, Imanu segera membawa dombanya kembali ke rumah untuk ia obati. Luka yang dialami domba itu begitu dalam, sehingga Imanu menjadi putus asa. Domba itu benar-benar sekarat. Imanu merasa bersedih hati. Sakit hatinya terhadap penderitaan domba tersebut justru lebih pedih daripada sakit tubuhnya akibat amukan serigala tersebut. Namun Imanu tidak terus berlarut-larut dalam kesedihan, dia terus berusaha mengobati dombanya tersebut. Dengan hati-hati ia memberi obat-obatan untuk menghentikan luka domba itu, lalu menutupi lukanya. 


Selang beberapa hari kemudian, secara ajaib, luka-luka pada domba tersebut berangsur-angsur membaik. Selang tiga minggu, domba itu akhirnya kembali sehat. Imanu begitu bahagia mendapati sahabatnya itu telah kembali sehat. Dia memeluk dan bercanda setiap hari dengan domba-dombanya itu. Berkat kasihnya yang tulus tak bersyarat, domba itu akhirnya terselamatkan.

Roh-Roh Jahat di Udara

"Tut tuuuuutttt..." "Allen, bagaimana? Kau sudah siap?" "Aku masih mandi.." "Kau harap menungg...