Alkisah, di suatu padang rumput yang
tandus, hidup seorang pria tua bernama Imanu. Dia tinggal menetap di sebuah
gubuk reot didekat padang rumput tersebut. Sejak lama dia hidup sebatang kara.
Kebutuhannya hanya dia penuhi dengan menjaring ikan di sungai yang cukup jauh
dari tempat tinggalnya. Hidupnya pun hanya ditemani oleh sekawanan domba yang
dia piara sejak kecil. Namun, dibalik semua kemiskinan yang dia rasakan, siapa
yang menyangka kalau dia dahulu adalah seorang raja yang sangat kaya, kehidupan
rakyatnya pun begitu makmur dan sejahtera. Hasil laut dan tanahnya yang begitu
melimpah menjadikan negeri yang dia pimpin begitu terjamin dalam masa depan.
Tidak ada penderitaan, tidak ada kelaparan, semua begitu bahagia. Sang raja
kala itu memiliki keluarga yang begitu dekat dengannya, ayah dan ibu yang baik
dan begitu memanjakannya, serta kakeknya yang juga menyayanginya. Ketika raja
berulang tahun, sang kakek memberikannya dua ekor domba jantan-betina. Sang raja
begitu menyayangi domba-domba itu, dia merawatnya dengan sepenuh hati, karena
dia pun tahu, kakeknya juga telah menyayanginya.
Hingga suatu ketika, bencana itu datang.
Di malam yang mencekam itu, secara tiba-tiba, kerajaannya diserang oleh
kerajaan musuh dari barat, Apolion. Serangan yang gencar dan begitu cepat
tersebut tidak mampu diantisipasi oleh kerajaan Imanu. Untuk melindungi penerus
kerajaan, serta atas desakan dari pihak istana, akhirnya Imanu melarikan diri.
Sebelum dia pergi, dia membawa serta domba-dombanya. Hanya itu satu-satunya
harta yang dia mampu selamatkan. Sejak saat itu, dia tidak tahu lagi nasib dari
keluarganya. Menurut desas-desusnya, keluarga kerajaan tersebut telah terbunuh,
dan tentu saja kerajaannya telah jatuh sepenuhnya ke tangan raja Apolion. Kini,
segala kebahagiaan itu telah hilang.
*********************
"Kau masih lapar?", tanyanya
kepada dombanya yang sedang mengunyah rumput kering. Dia mencoba untuk
terus tersenyum, karena tidak ada lagi yang bisa mengerti persoalannya selain
domba-dombanya, karena hanya domba-domba itu hartanya yang paling berharga dan
satu-satunya. "Hei, jangan berebut, kalian pasti akan mendapat bagiannya
masing-masing", tegasnya sambil membagikan rumput-rumput yang masih tersisa.
"Hmm, aku harus mencari rumput lagi kepada kalian, tempat ini sudah mulai
kehabisan rumput". Matanya memandang, tampak dataran tandus yang
membentang disekelilingnya. Sekian detik kemudian, pikirannya menerawang,
matanya mulai berkaca-kaca, "harusnya aku tidak meninggalkan istana kala
itu, biarlah aku pun ikut mati bersama-sama ayahku, ibuku, dan kakekku, tidak
ada lagi pengharapan di dunia ini. Semua sudah berakhir". Karena hal
tersebut, dia pernah mencoba untuk mengakhiri hidupnya, namun domba-dombanya
tersebut membuatnya mengurungkan niat tersebut. Dia begitu mencintai ternaknya
tersebut, dia tidak ingin meninggalkannya. "Lebih baik aku menjalani hidup
ini sebaik-baiknya, daripada aku harus mati sia-sia", katanya. Kehidupan
Imanu yang begitu sulit tidak membuatnya patah semangat, yang bisa dia lakukan
hanyalah merawat domba-dombanya itu, tanpa alasan yang jelas, dia begitu
mencintai ternaknya itu.
Siang hari yang terik, dimana rerumputan
sudah mulai jarang. Dengan sebuah sabit dan karung, Imanu pergi meninggalkan
rumah. "Tunggu aku pulang. Aku mau mencari pakan untuk kalian. Tetaplah
ada di padang ini.", perintahnya sambil mengusap-usap piaraannya tersebut.
Lalu berangkatlah dia kearah timur. Perjalanan yang jauh dan memakan waktu yang
lama, akhirnya dia menemukan padang rumput yang hijau di balik pepohonan di
hutan. Dengan segera, dia mencabuti rumput-rumput tersebut, lalu memasukkannya
ke dalam karung. Matanya begitu berbinar-binar membayangkan kebahagiaan
domba-dombanya ketika memakan rumput tersebut. Setelah karung terisi penuh, dia
lalu pulang kembali ke rumahnya.
Hari mulai menjelang malam ketika dia tiba
di rumah. Tampak domba-dombanya dia giring untuk masuk ke dalam kandang. Belum
sempat semuanya masuk ke kandang, tiba-tiba dia teringat akan sesuatu,
"kemana dombaku yang paling gemuk? mengapa kurang satu jumlahnya? dimana?
ada dimana?". Imanu begitu panik bukan kepalang, sepersekian detik kemudian,
dia berlari mengelilingi padang rumput tersebut. Berkali-kali dia mencari di
tempat yang sama, tetapi hasilnya nihil. Seakan upayanya sia-sia, tanpa
didasari, dia menangis, "Aku betul-betul orang yang tidak berguna. Mengapa
dahulu aku mau meninggalkan tahtaku begitu saja? Dan sekarang, aku harus
kehilangan satu sahabatku, aku betul-betul tidak berguna". Ditengah-tengah
tangisannya tersebut, secara ajaib terdengar sayup-sayup seperti suara seekor
domba. "Hah? dimana? darimana asal suara itu?", segera ia bergegas
mencari sumber suara tersebut. Semakin dekat, dan semakin dekat, suara itu
semakin jelas ia dengar. Dari balik semak belukar, ia akhirnya menemukan asal
suara tersebut. Tampak seakan ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Di
balik semak tersebut, seekor serigala tampak mencabik-cabik domba tersebut.
Segera Imanu tersadar, hanya dengan tangan kosong, pria itu menghardik serigala
tersebut. Sesuai dugaan, serigala itu berbalik menyerang Imanu, serigala itu
mencakar-cakar dan menggigit tubuhnya hingga ia berlumuran darah. Namun ia tak
patah arang, pria itu berteriak lalu mencekik serigala itu sekuat tenaga.
Serigala itu akhirnya mati lemas. Imanu yang berlumuran darah dengan cepat
menghampiri dombanya tersebut. "Kau pasti kuat! Aku akan menyembuhkanmu!
Jangan pergi sahabatku!", sambil terisak, Imanu segera membawa dombanya
kembali ke rumah untuk ia obati. Luka yang dialami domba itu begitu dalam,
sehingga Imanu menjadi putus asa. Domba itu benar-benar sekarat. Imanu merasa
bersedih hati. Sakit hatinya terhadap penderitaan domba tersebut justru lebih
pedih daripada sakit tubuhnya akibat amukan serigala tersebut. Namun Imanu
tidak terus berlarut-larut dalam kesedihan, dia terus berusaha mengobati
dombanya tersebut. Dengan hati-hati ia memberi obat-obatan untuk menghentikan
luka domba itu, lalu menutupi lukanya.
Selang beberapa hari kemudian, secara
ajaib, luka-luka pada domba tersebut berangsur-angsur membaik. Selang tiga
minggu, domba itu akhirnya kembali sehat. Imanu begitu bahagia mendapati sahabatnya
itu telah kembali sehat. Dia memeluk dan bercanda setiap hari dengan
domba-dombanya itu. Berkat kasihnya yang tulus tak bersyarat, domba itu
akhirnya terselamatkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar